Karya : Annisa Apriliani
H
|
ari sudah mulai senja,
tetapi seorang remaja tetap gigih berjuang untuk mengais rejeki untuk menghidupi
dirinya dan keluarganya. Ya, ialah Lintang. Ia terlahir dari keluarga yang
miskin, ia tidak seperti remaja pada umumnya. Ibunya yang hanya pembantu rumah
tangga tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Maka Lintang harus
membanting tulang untuk membantu membiayai sekolah ia sendiri. Untungnya
Lintang adalah anak yang sangat rajin dan pintar disekolahnya, dan ia sering
mendapatkan nilai baik di setiap mata pelajaran.
***
Terlihat dari sudut desa itu, sebuah gubuk kecil tempat
tinggal Lintang bersama ibu dan adiknya. Rumah yang jauh dari kata mewah, namun
sangat sederhana sekali. Ia sangat suka dengan pesawat terbang, dan ia
mempunyai impian untuk bisa merakit pesawat terbang buatannya sendiri. Pesawat
terbang yang mungil. Ya, satu-satunya mainan yang tersisa yang diberikan oleh
ayahnya yang sekarang sudah tiada. Dulu, ia rela mengayuh sepedanya sepanjang 5 KM dari rumahnya untuk melihat pesawat terbang di lapangan.
“Bu, aku ingin bisa membuat
pesawat terbangku sendiri, tapi apakah aku bisa mewujudkan impian itu?”. Tanya
Lintang pada ibunya.
Ibunya pun menjawab. “Nak, tidak ada yang tidak mungkin, jika kamu mau berusaha untuk mewujudkan impianmu pasti semua impianmu itu akan tercapai pada saatnya.”
“Tapi aku tidak yakin bu!”. Jawab Lintang dengan pesimis.
“Semua itu perlu usaha nak. Mungkin suatu hari nanti kamu akan menjadi pembuat pesawat terbang yang paling hebat.”. Kata ibunya sambil memberi semangat kepada Lintang.
“Iya bu aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan impian ku itu.”. jawab Lintang dengan optimis.
Ibunya pun tersenyum melihat anaknya itu mempunyai tekad yang sangat besar untuk membuat pesawat terbang buatannya sendiri.
***
Waktu terasa begitu cepat, sekarang ia sudah mulai dewasa. Sudah saatnya ia meraih impian dia sejak kecil. Pada hari itu Lintang pun merantau ke Jakarta meninggalkan ibu dan adiknya untuk mencari pekerjaan.
Tak lama kemudian ia pun diterima bekerja di suatu bengkel yang bernama Pointment Company. Karena kegigihan dan keterampilan yang ia miliki, bos nya senang dengan cara bekerjanya. Ia sangat teliti dan cekatan dalam bekerja. Lima tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, bos nya pun membuka cabang bengkelnya yang didirikan di Bandung. Bengkel tersebut dipercayakan kepada Lintang. Ia tetap bekerja keras di bengkel barunya itu, malah semakin hari cara kerja Lintang semakin membaik. Bos nya pun datang ke bengkel barunya itu dan menemui Lintang.
“Bagaimana keadaan di bengkel ini?”. T anya bos nya.
“Semua baik-baik saja pak, pelanggan disini pun tidak pernah sepi.” Jawab Lintang.
“Baguslah kalau begitu Lintang.” Jawab bos nya dengan senang.
Tidak lama kemudian pun bos nya pergi.
Semakin hari kerja Lintang di bengkel semakin baik, tak heran bila bengkelnya tidak pernah sepi dari pelanggan.
Malam itu di kost-an tempat ia tinggal, ia merasa tidak enak badan. Kesehatan Lintang menurun drastis hingga ia dirawat di rumah sakit, mungkin karena kelelahan yang mengakibatkan ia jatuh sakit. Dua minggu berlalu, kesehatan Lintang mulai pulih kembali dan ia bisa kembali bekerja di bengkel.
***
Pada usia 26 tahun ia mencapai kesuksesannya. Ia mulai berfikir untuk membuat inovasi sendiri yaitu membuat pesawat terbang impiannya. Ia merasa sudah mampu untuk membuka bengkelnya sendiri, akhirnya ia mengundurkan diri dari bengkel milik bosnya itu. Lintang mulai merintis karirnya yaitu membuka bengkel sendiri dan ia sudah mulai mempekerjakan 5 orang karyawan dan semakin lama karyawannya pun semakin banyak. Bengkel itu dibangun dari hasil kerja keras dia selama ini
.
Ia mulai membuat pesawat
terbang dengan dibantu oleh karyawannya. Prosesnya memang memakan waktu yang
cukup lama, tetapi itu bisa mempengaruhi kualitas produk yang dibuatnya
tersebut. Tiga bulan kemudian, pesawat buatannya sendiri pun akhirnya berhasil
dibuat, dan ia sangat senang sekali akhirnya ia bisa membuat pesawat terbang
impiannya itu.
***
Malam yang indah, menyaksikan bintang-bintang yang menari diatas langit dan keindahan sang dewi malam. Ia pun merasakan dinginnya malam di kampung halamannya. Lintang mengambil cuti untuk bertemu dengan ibu dan adiknya, sudah lama ia tidak bertemu dengan keluarganya. Betapa bahagianya ia menceritakan kesuksesannya itu kepada ibunya.
“Bu, aku senang sekali akhirnya impian ku bisa terwujud.” Bicara Lintang kepada ibunya
“Ya, alhamdulillah Nak. Akhirnya kamu bisa mewujudkan impian mu sejak kecil itu dengan kerja keras mu selama ini, ibu ikut bahagia dan ibu tidak akan lupa untuk mendoakanmu.” Saut ibunya
“Terimakasih ya Bu. Tanpa doa dan nasehat ibu, Lintang tidak bisa menjadi seperti sekarang ini.” Ucap Lintang dengan menahan tangis
“Kamu jangan lupa ibadah dan berdoa Nak, supaya usahamu selalu dilancarkan oleh Allah SWT.” Kata Ibunya
“Iya bu, Lintang tidak akan lupa untuk semua itu. Sekali lagi Lintang berterimakasih kepada ibu, ibu yang selalu mendoakan Lintang, selalu memotivasi Lintang, Lintang sangat bersyukur mempunyai ibu yang sebaik ini, Lintang sayang sekali sama ibu.” Kata Lintang sambil memeluk ibunya.
“Iya Nak. Ibu juga sayang sama kamu dan juga adikmu.” Jawab ibunya sambil menangis.
Keesokan harinya Lintang pun
harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pekerjaanya. Tak lupa ia pun
berpamitan kepada ibunya.
“Bu, Lintang pergi dulu. Doakan yang terbaik untuk Lintang ya Bu.” Kata Lintang
Ibunya menjawab, “Iya Nak, ibu selalu mendoakanmu. Hati-hati di jalan ya Nak.”
“Ya Bu, Lintang pergi ya. Assalamualaikum.” Pamit Lintang
“Iya Nak, Waalaikumsalam.” Jawab ibunya
***
Tiba di kota Metropolitan, Lintang pun langsung menuju bengkelnya dan ia mulai bekerja seperti biasa lagi.
“Bagaimana keadaan bengkel selama saya cuti?” tanya Lintang pada salah satu karyawan
“Baik-baik saja pak, malah ada pesanan untuk pembuatan mesin pesawat?” jawab karyawannya
“Oh ya? Benarkah? Yasudah ayo kita mulai membuat mesin pesawat itu.” Sahut Lintang dengan gembira
“Siap pak.” Jawab karyawannya
Lintang dan beberapa karyawannya itu pun mulai membuat mesin pesawat. Dengan kegigihannya dan kepintarannya di bidang mesin, dia sudah tau apa saja yang dibutuhkan untuk membuat mesin pesawat tersebut dan membuatnya dengan sangat cekatan.
Beberapa hari kemudian, pesanan mesin pesawatnya itu pun dikirim kepada pelanggan yang telah memesan. Pelanggan itu pun merasa puas dengan barang buatan Lintang tersebut. Ia sangat senang sekali mendengar kabar baik dari pelanggannya tersebut dan membuat ia menjadi semakin gigih dalam bekerja.
Lintang berniat untuk mendirikan pabrik, tapi sayangnya uang simpanannya pun belum mencukupi. Ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendirikan pabriknya sendiri.
Lambat laun akhirnya Lintang pun berhasil membuat pabrik miliknya sendiri dan memproduksi pesawat terbang dan mesin pesawat terbang. Bengkelnya pun tetap berjalan walaupun ia sudah membangun pabrik.
***
Sore itu dirumahnya, semua keluarganya berkumpul. Ibu, istri, adik, serta anaknya pun berkumpul. Suasana seperti itu jarang sekali ia dapatkan, hari itu ia sangat bahagia melihat keluarganya berkumpul.
Lintang bahagia sekali akhirnya bisa mewujudkan impiannya tersebut dengan segala kerja kerasnya, dimulai dari nol sampai ia sukses seperti sekarang. Impian sejak kecil untuk membuat pesawat terbang sendiri itu pun akhirnya terwujud dan bahkan ia telah mempunyai pabrik untuk pembuatan pesawat terbangnya sendiri.
Semua impian itu butuh usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya. Kesuksesan itu tidak datang begitu saja. Dan pada akhirnya Lintang pun meraih kesuksesan yang tidak diperkirakan, ya memang semua itu akan indah pada waktunya.
***
Kala senja itu, cucuran keringat mengalir deras pada diri seorang remaja. Yang selalu mengayuh sepeda demi mencapai tujuannya. Seorang remaja dengan semangat juang tinggi. Yang selalu bermimpi menggapai cita yang murni. Ya, ialah Lintang namanya. Ia terlahir dari keluarga yang miskin. Ya, memang seseorang di dunia ini tidak ada yang sempurna, pada setiap insan pasti mempunyai bakat masing-masing yang sudah di anugerahkan Tuhan kepadanya.
*SELESAI*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar